Kamis, 13 Juni 2013
I am a clinical nurse and nurse educator: Asuhan keperawatan SECTIO CAESAREA
I am a clinical nurse and nurse educator: Asuhan keperawatan SECTIO CAESAREA: BAB I TINJAUAN TEORITIS 1.1 KONSEP DASAR 1.1.1 SECTIO CAESAREA 1.1.1.1. Pengertian Sectio caesarea :pembedahan untuk melahirkan jan...
Jumat, 05 April 2013
Pengertian, Komponen, Penyebab, Pembentukan, Pertumbuhan dan Pencegahan Plak Pada Gigi
Pengertian Plak
Plak adalah
lapisan tipis dari mikroorganisme, sisa makanan dan bahan organik yang
terbentuk di gigi, kadang-kadang juga ditemukan pada gusi dan lidah.
Plak merupakan agregat sejumlah besar dan berbagai macam mikroorganisme
pada permukaan gigi mulai erupsi dengan cepat akan dilindungi lapisan
tipis glikoprotein yang disebut aequired pellicle. Glikoprotein di dalam
air ludah akan diserap dengan spesifik pada hidroksiaptit dan melekat
erat pada permukaan gigi (Roeslan,2002).
Menurut
Depkes (1995) plak adalah lapisan tipis yang tak berwarna (transparan)
tidak dapat dilihat dengan mata biasa, melekat pada gigi dan membentuk
koloni atau kumpulan yang terdiri dari air liur, sisa-sisa makanan,
jaringan mati, fibrinogen, mikroorganisme dan lain sebagainya. Untuk
melihat plak digunakan zat pewarna yaitu disclosing solution.
Komponen Plak
Menurut Roeslan (2002) plak gigi bakterial mengandung 3 komponen fungsional yaitu :
a. Organisme kariogenik, terutama s.mutans, L.Acidophillus dan A. Viscocus.
b. Organisme penyebab kelainan periodontal khususnya bacteroides asaccha rolyticus (gingivitis) dan Actinobacillus.
c. Bahan adjuvan dan supresif adalah lipopolisakarisa, dekstan dan asam lipoteikoat.
Plak
juga terdiri dari mutans dan streptokokus sanguis yang ditandai oleh
kemampuannya mensintesis sukrosa menjadi polisakarida ekstraseluler dan
asam. Mikroorganisme tersebut selain mampu membentuk asam (asidogenik)
juga tahan terhadap asam (asidurik).
Menurut
Houwink dkk (1993) plak supra dan sub gingival hampir tiga perempat
bagian terdiri dari bakteri. Terbukti bahwa 1 mg plak mengandung kurang
lebih 3 X 108 bakteri. Di samping bakteri plak mengandung glikoprotein
dan polisakarida esktraseluler (PSE) yang bersama-sama membentuk matriks
plak. Tambahan sisa-sisa sel epitel, granulosat, dan sisa-sisa makanan.
Keadaan lingkungan seperti susunan ludah, substrat yang disediakan,
konsentrasi zat asam, dan efektifitas pembersihan buatan dan fisiologis
sangat mempengaruhi susunan flora. Oleh karena itu susunan plak berbeda
dari tempat ke tempat. Kebanyakan bakteri pada plak gigi adalah
streptokokus dan aktinimisetes. Terutama dalam fisure terdapat
streptokokus dalam presentase yang relatif tinggi daripada dalam plak
aproksimal, dimana justru species actinomyces merupakan jumlah flora
yang lebih besar.
Faktor Penyebab Terjadinya Plak
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya plak oleh Carlson dalam Sriyono (2005) dibagi menjadi 2:
a. Lingkungan fisik meliputi :
1). Anatomi gigi dan posisi gigi
2). Anatomi jaringan sekitar gigi
3). Struktur permukaan gigi
4). Gesekan oleh makanan dan jaringan sekitar
5). Tindakan kebersihan mulut
b. Hadirnya nutrien yang meliputi :
1). Makanan atau diet
2). Cairan gusi
3). Sisa epitel dan leukosit
4). Saliva
Dari faktor tersebut salah satu faktor terpenting adalah tindakan kebersihan mulut (Dally,1996 dalam Sriyono, 2005).
Mekanisme Pembentukan Plak
Pada
permukaan gigi yang sudah dibersihkan segera akan tumbuh lapisan tipis
yang menutupi permukaan email, lapisan ini tumbuh karena adsorbsi zat
putih telur dan glikoprotein dari ludah. Lapisan tipis ini, tembus
cahaya dan tidak mengandung bakteri serta tidak mempunyai struktur
tertentu dan disebut aquired pillikel. Setelah equired pellikel
trbentuk, bakteri mulai berproliferasi di atas permukaan pellikel.
Pellikel yang telah diduduki oleh bakteri akan menjadi bagian dari plak
(Ircham dkk,1993).
Pembentukan
plak tidak terjadi secara acak tetapi terjadi secara teratur. Pelikel
yang berasal dari saliva atau cairan gingiva akan terbentuk terlebih
dahulu oleh gigi. Pelikel merupakan kutikel yang tipis, bening dan
terdiri dari glikoprotein. Segera setelah pembentukan kutikel, bakteri
tipe kokus (terutama streptokokus) akan melekat ke permukaan kutikel,
yang lengket, misalnya permukaan yang memungkinkan terjadinya perlekatan
dari koloni bakteri. Organisme ini akan membelah dan membentuk koloni.
Perlekatan mikroorganisme akan bertambah erat dengan adanya produksi
desktran dari bakteri sebagai produk sampingan dari aktivitas
metabolisme. Baru kemudian, tipe organisme yang lain akan melekat pada
masa dan flora gabungan yang padat, kemudian mengandung bentuk organisme
filamen. Plak dapat melekat pada gigi secara supragingiva atau
subgingiva, pada servik gingiva atau pada poket periodontal. Kedua tipe
plak tersebut bervariasi karena menyerap substansi yang berbeda dari
ludah dan diet pada plak supragingiva, dan eksudat gingiva pada daerah
subgingiva. Bentuk awal dari plak lebih kariogenik sedang bentuk akhir
dapat merangsang terjadinya penyakit periodontal (Forrest, 1991).
Waktu Pertumbuhan Plak
Waktu
yang cukup untuk perkembangan plak didapatkan bila seseorang
mengabaikan tindakan kebersihan mulut. Plak dapat dihilangkan dengan
menggosok gigi, tetapi hanya bersifat sementara. Lapisan ini akan
ditemukan kembali segera setelah menggosok gigi. Dalam waktu relatif
cukup singkat, permukaan email gigi tertutup oleh bakteri jenis coccus.
Setelah + 10 menit coccus mulai berkembangbiak, bila kita makan sukrosa
maka kuman dalam plak akan merubah sukrosa menjadi asam yang dapat
melarutkan email, sehingga terjadi karies. Apabila plak dibiarkan tumbuh
maka pada hari kedua menetaplah kuman bentuk filament dan setelah hari
ketuju muncullah jenis kuman spiril dan spirochaeta. Sesudah hari ketuju
plak mengandung bermacam-macam kuman yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit gigi dan mulut (Nio, 1987).
Menurut
Caranza (1990) dalam Sriyono (2005), plak dapat terbentuk segera
setelah gigi dibersihkan. Plak terbentuk 1jam setelah gigi dibersihkan
dan mencapai maksimum setelah 30hari.
Pencegahan Plak
Menurut Besford (1996) pencegahan plak gigi dapat dilakukan :
a. Secara mekanik yaitu dengan menyikat gigi dan pembersihan interdental dengan menggunakan benang gigi (dental floss) .
b. Secara kimiawi yaitu kumur-kumur dengan cairan antiseptis.
c. Mengurangi konsumsi makanan manis dan lengket.
d. Memperbanyak konsumsi buah-buahan yang berair dan sayuran berserat.
e. Pemeriksaan gigi secara berkala.
Menurut
Srigupta (2004) kekuatan fisiologis alami yang membersihkan rongga
mulut tidak mampu menghilangkan plak gigi. Sehingga mengontrol plak
merupakan cara untuk menghilangkan plak dan mencegah akumulasinya.
Inilah tingkatan utama dalam pencegahan penyakit gusi dan karies.
Sumber :
Roeslan, B.O., 2002, Imunologi Oral Kelainan di dalam Rongga Mulut, FKUI, Jakarta
Depkes,
1995, Pedoman Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut Ibu Hamil, Ibu
Menyusui, Balita dan Anak Prasekolah Secara Terpadu di RS dan
Puskesmas, Jakarta
Houwink, B.,
Dirks, O.B., Cramwincklel A.B., Crielaers, P.J.A., Dermaut, L.R.,
Eijkman, M.A.J., Huis In’t Veld, J.H.J., Konig, K.G., Moltzer, G.,
Helderman V.H., Pilot, T., Roukema, P.A., Schautteet, H., Tan, H.H.,
Velden-Veldkamp, M.I.V.D., Woltgens, J.H.M, 1993, Ilmu Kedokteran Gigi
Pencegahan, Gajah Mada University Press, Yogyakarta
Sriyono, N.W., 2005, Pengantar Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan, Medica Fakultas Kedokteran UGM, Jogjakarta
Ircham, Ediati S., Sidarto S., 1993, Penyakit-penyakit Gigi dan Mulut Pencegahan dan Perawatannya, Liberty, Yogyakarta
Forrest, J.O., 1991, Pencegahan Penyakit Mulut (terj.), Hipokrates, Jakarta
Nio, Bhe. K., 1987, Preventif Dentistry, Yayasan Kesehatan Gigi Indonesia, Bandung
Besford, J., 1996, Mengenal Gigi Anda Petunjuk Bagi Orang Tua (terj.), Arcan, Jakarta
Srigupta, Aziz Ahmad, 2004, Perawatan Gigi dan Mulut, Prestasi Pustaka, Jakarta
Tujuan Menyikat Gigi, Alat dan Bahan Menyikat Gigi, Metode Menyikat Gigi dan Cara Menyikat Gigi
Menurut Sriyono (2005).Menyikat kebersihan gigi dan mulut merupakan hal yang penting untuk mencegah terjadinya gangguan di rongga mulut dengan menyikat gigi. Menyikat gigi merupakan cara yang dianjurkan untuk membersihkan plak pada permukaan gigi dan gusi. Tujuan menyikat gigi (Brushing Teeth) adalah menghilangkan dan mengganggu pembentukan plak, membersihkan gigi dari makanan, debris dan pewarnaan, menstimulasi jaringan gingival, mengaplikasikan pasta gigi yang berisi suatu bahan khusus yang ditujukan terhadap karies, penyakit periodontal atau sensitivitas.
Menurut Pratiwi (2009), alat dan bahan yang digunakan untuk menyikat gigi antara lain:
a. Sikat Gigi
Pilih
kepala sikat yang ramping atau bersudut, sehingga mempermudah
pencapaian sikat di daerah mulut bagian belakang yang sulit terjangkau,
pilih bulu sikat yang halus sehingga tidak merusak email dan gusi.
b. Pasta Gigi
Jumlah
pasta gigi yang diletakkan pun tidak perlu sepanjang permukaan bulu
sikat, melainkan seperlunya saja. Jadi bukan jumlah pasta gigi yang
berpengaruh terhadap kebersihan gigi, tetapi cara menyikatnya. Kemudian,
busa yang terbentuk saat menyikat gigi, sebiknya tidak ditelan. Pasta
gigi juga dapat membantu menguatkan struktur gigi dengan kandungan
fluor.
c. Gelas Kumur Berisi Air
Digunakan untuk kumur-kumur setelah selesai dilakukan penyikatan.
d. Cermin
Dalam menyikat gigi sebaiknya dilakukan di depan cermin,untuk melihat permukaan gigi mana yang belum di sikat.
Metode menyikat gigi berdasarkan macam gerakan yang dilakukan,digolongkan menjadi 6 yaitu:
a. Metode Scrub
Cara
sikat gigi dengan menggerakkan sikat secara horizontal. Ujung bulu
sikat diletakkan pada area batas gusi dan gigi, kemudian digerakkan maju
dan mundur berulang-ulang.
b. Metode Roll
Cara
menyikat gigi dengan gerakan memutar mulai dari permukaan kunyah gigi
belakang, gusi dan seluruh permukaan gigi sisanya. Bulu sikat diletakkan
pada area batas gusi dan gigi dengan posisi parallel dengan sumbu
tegaknya gigi.
c. Metode Bass
Meletakkan
bulu sikatnya pada area batas gusi dan gigi sambil membentuk sudut 45
derajat dengan sumbu tegak gigi. Sikat gigi digetarkan di tempat tanpa
mengubah-ubah posisi bulu sikat.
d. Metode Stillman
Mengaplikasikan
metode dengan menekan bulu sikat dari arah gusi ke gigi secara
berulang. Setelah sampai di permukaan kunyah, bulu sikat digerakkan
memutar. Bulu sikat diletakkan pada area batas gusi dan gigi sambil
membentuk sudut 45 derajat dengan sumbu tegak gigi seperti pada metode
bass.
e. Metode Fones
Mengutarakan
metode dengan gerakan sikat secara horizontal sementara gigi ditahan
pada posisi menggigit atau oklusi. Gerakan dilakukan memutar dan
mengenai seluruh permukaan gigi atas dan bawah.
f. Metode Charters
Meletakkan
bulu sikat menekan gigi dengan arah bulu sikat menghadap permukaan
kunyah/oklusal gigi. Arahkan 45 derajat pada daerah leher gigi. Metode
ini baik untuk membersihkan plak di daerah sela-sela gigi,pada pasien
yang memakai kawat gigi.
Namun
yang harus diperhatikan dalam menyikat gigi adalah: metode menyikat gigi
harus dapat membersihkan semua permukaan gigi dan gusi. Terutama daerah
saku gusi dan daerah interdental, gerakan sikat tidak boleh melukai
jaringan lunak maupun jaringan keras gigi (Pratiwi, 2009).
EBOOK YUFLIHUL KHAIR: SAP CARA MENGGOSOK GIGI DENGAN BAIK DAN BENAR
EBOOK YUFLIHUL KHAIR: SAP CARA MENGGOSOK GIGI DENGAN BAIK DAN BENAR: SATUAN ACARA PENYULUHAN CARA MENGOSOK GIGI DENGAN BAIK DAN BENAR Disusun Oleh : YUFLIHUL KHAIR 07.01.0768 PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN...
Minggu, 31 Maret 2013
Konsep Dasar Pendidikan Kesehatan (Penyuluhan)
Pendidikan kesehatan adalah suatu penerapan konsep pendidikan didalam bidang kesehatan. Dilihat dari segi pendidikan, pendidikan kesehatan adalah suatu praktek pendidikan. Oleh sebab itu konsep pendidikan kesehatan adalah konsep pendidikan yang diaplikasikan pada bidang kesehatan. Konsep dasar pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti di dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan, atau perubahan ke arah yang lebih dewasa, lebih baik, dan lebih matang pada diri individu, kelompok atau masyarakat. Konsep ini berasal dari suatu asumsi bahwa manusia sebagai makhluk sosial dalam kehidupannya untuk mencapai nilai-nilai hidup didalam masyarakat selalu memerlukan bantuan orang lain yang mempunyai kelebihan (lebih dewasa, lebih pandai, lebih mampu, lebih tahu dan sebaginya). Dalam mencapai tujuan tersebut, seorang individu, kelompok atau masyarakat tidak lepas dari kegiatan belajar.
Penyuluhan kesehatan merupakan suatu proses belajar untuk mengembangkan pengertian yang benar dan sikap yang positif dari individu atau kelompok kesehatan yang bersangkutan mempunyai cara hidup sehat sebagian dari cara hidupnya sehari atas kesadaran dan kemauannya sendiri.
b. Tujuan Pendidikan Kesehatan (Penyuluhan)
1) Peserta didik dapat memiliki pengetahuan tentang ilmu kesehatan, termasuk cara hidup sehat dan teratur.
2) Peserta didik dapat memiliki nilai dan sikap yang positifterhadap prinsip hidup sehat.
3) Peserta didik dapat memiliki keterampilan dalam melaksanakan hal yang berkaitan dengan pemeliharaan, pertolongan, dan perawatan kesehatan.
4) Peserta didik dapat memiliki kebiasaan dalam hidup sehari-hari yang sesuai dengan syarat kesehatan.
5) Peserta didik dapat memiliki kemampuan untukmenalarkan perilaku hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.
6) Peserta didik dapat memiliki pertumbuhan termasuk bertambahnya tinggi badan dan berat badan yang seimbang.
7) Peserta didik dapat mengerti dan menerapkan prinsip—prinsip pengutamaan pencegahan penyakit dalam kaitannya dengan kesehatan dan keselamatan dalam kehidupan sehari-hari.
8) Peserta didik dapat memiliki daya tangkal terhadap pengaruh buruk dan luar.
9) Peserta didik dapat memiliki tingkat kesegaran jasmani dan derajat kesehatan yang optimal serta mempunyai daya tahan tubuh yang baik terhadap penyakit
c. Perencanaan Pendidikan Kesehatan (Penyuluhan)
Perencanaan penyuluhan kesehatan meliputi :
1) Pengenalan lokasi penyuluhan
a) Mengenal masyarakat
Sasaran program adalah masyarakat sehingga siapapun yang merencanakan program harus mengenal masyarakat dalam segala segi kehidupannya. Dalam perencanaan ini, variabel masyarakat yang perlu diketahui adalah jumlah penduduk, keadaan sosial budaya dan ekonomi masyarakat, pola komunikasi di masyarakat, Sumber daya mencakup sumber daya yang dimiliki masyarakat, sumber daya apa yang ada, sumber daya apa yang ada dan dapat digunakan untuk pelaksanaan kegiatan penyuluhan, melibatkan petugas kesehatan dalam melaksanakan penyuluhan bagi program bersangkutan, bagaimana pengalaman masyarakat terhadap program- program sebelumnya.
b) Mengenal wilayah,
Program dapat dilaksanakan dengan baik, jika perencana program mengetahui benar situasi lapangan. Hal-hal yang perlu diketahui berhubungan dengan wilayah adalah lokasinya (apakah terpencil, daerah datar atau pegunungan, dan jalur transportasi umum) dan sifatnya (yaitu periode penghujan atau kemarau, daerah kering atau cukup air, daerah banjir, dan daerah perbatasan).
2) Menentukan prioritas
Prioritas dalam penyuluhan harus sejalan dengan prioritas masalah yang ditentukan oleh program yang ditunjang. Penentuanprioritas didasarkan pada beratnya dampak dan masalah tersebut sehingga perlu diprioritaskan penanggulangannya, pertimbangan politis, dan sumber daya yang ada.
3) Menentukan tujuan penyuluhan
Apa pun tujuan yang akan dipilih, hal terpenting adalah tujuan harus jelas, realistis (bisa dicapai), dan dapat diukur. Jib program sekarang yang akan dikembangkan segi penyuluhannya sudah berjalan beberapa lama, perlu diperhatikan seberapa jauh penyuluhan waktu 1alu, tujuan penyuluhan waktu itu, apa kegiatan dan bagaimana hasil penyuluhan waktu itu. Berdasarkan informasi tersebut, tentukan tujuan penyuluhan yang akan dikembangkan sekarang.
4) Menentukan sasaran penyuluhan
Sasaran program dan sasaran penyuluhan tidaklah selalu sama. Dalam penyuluhan, yang dimaksud sasaran adalah individu atau kelompok yang akan diberi penyuluhan. Penentuan kelompok sasaran menyangkut pula strategi.
5) Menentukan isi penyuluhan
Isi harus dituangkan ke dalam bahasa yang mudah dipahami oleh sasaran, dapat dilaksanakan oleh sasaran dengan sarana yang mereka miliki, atau terjangkau oleh sasaran. Dalam menyusun isi penyuluhan, harus dikemukakan keuntungan jika sasaran melaksanakan apa yang dianjurkan dalam penyuluhan tersebut dan perlu dipahami dasar-dasar komunikasi.
6) Menentukan metode penyuluhan yang akan digunakan
Metode atau cara bergantung pada aspek atau tujuan apa yang akan dicapai, apakah aspek pengertian, sikap, atau keterampilan. Jika tujuan yang akan dicapai adalah aspek pengertian, pesan cukup disampaikan dengan lisan atau disampaikan melalui tulisan. jika tujuan untuk mengembangkan sikap positif, sasaran perlu menyaksikan kejadian tersebut, baik melihat langsung, melalui film, slide, maupun foto.
7) Memilih alat peraga atau media penyuluhan
Setelah menentukan metode, selanjutnya tentukan media apa yang akan digunakan untuk menunjang pendekatan tadi, misalnya poster, leaflet, atau media lain.
8) Menyusun rencana penilaian (evaluasi)
a) Pastikan dalam tujuan yang telah dijabarkan sudah secara khusus dan jelas mencantumkan waktu evaluasi, tempat pelaksanaan evaluasi, dan kelompok sasaran yang akan dievaluasi.
b) Apa jenis indikator atau kriteria yang akan dipakai dalam penilaian.
c) Perlu dilihat kembali, apakah tujuan penyuluhan sudah sejalan dengan tujuan program.
d) Kegiatan-kegiatan penyuluhan apa yang akan dievaluasi.
e) Metode dan instrumen apa yang akan digunakan untuk evaluasi tersebut.
f) Siapa yang akan melaksanakan evaluasi.
g) Sarana-sarana apa (alat, biaya, tenaga, dan lain-lain) yang diperlukan untuk evaluasi, dan tempat sarana tersebut diperoleh.
h) Apakah terdapat fasilitas dan kesempatan untuk mempersiapkan tenaga-tenaga yang akan melaksanakan evaluasi tersebut.
i) Bagaimana rencana untuk memberikan umpan balik hasil evaluasi ini kepada para pimpinan program.
9) Menyusun rencana kerja atau rencana pelaksanaan
Setelah menetapkan pokok-pokok kegiatan penyuluhan termasuk waktu, tempat, dan pelaksanaan, buat jadwal pelaksanaannya yang dicantumkan dalam suatu daftar.
Sedangkan menurut Herijulianti langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam perencanaan penyuluhan adalah :
1) Analisis situasi (wilayah, masalah dan keadaan masyarakat)
2) Penentuan Prioritas Masalah, Prioritas masalah adalah urutan masalah dan masalah yang dianggap paling penting sampai dengan urutan yang kurang penting. Penentuan prioritas masalah dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode, antara lain dengan cara pembobotan.
3) Penentuan tujuan, mengubah perilaku masyarakat ke arah perilaku sehat sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
4) Penentuan Sasaran
Sasaran untuk penyuluhan secara umum dapat dibedakan menjadi:
a) Masyarakat umum
b) Masyarakat sekolah
c) Kelompok masyarakat tertentu
5) Penentuan Pesan, Pesan adalah informasi yang akan kita sampaikan kepada sasaran.
6) Penentuan Metode, biasanya mengacu pada penentuan tujuan yang ingin kita capat, apakah pengubahan pada tingkat kognitif, afektif, psikomotor.
7) Penentuan Media, media merupakan sarana untuk menyampaikan pesan penyuluhan PKG kepada sasaran sehingga mudah dimengeri oleh sasaran/pihak yang dituju seperti buku, poster leaflet, dll
8) Penentuan Rencana Penilaian
a) Penentuan tujuan penilaian.
b) Penentuan bagian apa dan program yang akan dinilal
c) Penentuan tolak ukur yang akan digunakan untuk penilalan.
d) Penentuan instrument apa yang akan digunakan.
9) Rencana kegiatan, rencana kegiatan disebut juga rencana operasional atau plan of action. Rencana kegiatan ini disusun berdasarkan langkah-langkah yang telah dikumpulkan dan semua potensi serta sumber daya yang ada dan dan masalah-masalah yang telah ditemukan.
d. Strategi Pendidikan Kesehatan (Penyuluhan)
Strategi dapat didefinisikan sebagai rencana umum tindakan yang dapat mencakup beberapa aktivitas dan mempertimbangkan karakteristik populasi target. Strategi promosi kesehatan yang efektif dapat dikategorikan sebagal berikut:
1) Strategi komunikasi kesehatan menginformasikan dan memengaruhi keputusan individu dan masyarakat yang meningkatkan kesehatan.
2) Strategi kebijakan atau penegakan menghasilkan kebijakan yang dapat dilaksanakan melalui pengaturan legislatif, lembaga peraturan, ataupun pengaturan organisasi. Kebijakan itu dirancang untuk mendukung perbaikan lingkungan rumah, sekolah, maupun lingkungan kerja.
3) Strategi mobilisasi komunitas melibatkan pemberian bantuan kepada masyarakat untuk mengidentifikasi dan mengambil tindakan terhadap permasalahan kesehatan bersama dengan memanfaatkan pengambilan keputusan bersama dan mengikutsertakan metode semacam pemberdayaan.
4) Strategi layanan kesehatan meliputi pengujian, skrining, dan layanan atau pengobatan khusus yang disediakan melalui komunitas atau lembaga kesehatan untuk meningkatkan, memperbaiki hasil akhir kesehatan.
5) Strategi teknologi melibatkan pembentukan atau modifikasi alat, struktur, sistem perawatan, atau tipe layanan atau lingkungan.
Dengan mengetahui bahwa komunikasi kesehatan dilibatkan dalam setiap strategi promosi kesehatan, kita perlu mempertimbangkan beberapa sudut pandang komunikasi kesehatan ketika memilih suatu pendekatan.
Senin, 28 Januari 2013
Asuhan Keperawatan Pre operatif
- A. Pengertian
Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien. Istilah perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang mencakup tiga fase pengalaman pembedahan, yaitu:
- Keperawatan Pre Operatif
- Keperawatan Intra Operatif
- Keperawatan Post Operatif
- B. Ruang Perawatan Pasca Anesthesia
Selama belum sadar betul, klien dibiarkan tetap tinggal di RR. Setelah operasi, klien diberikan perawatan yang sebaik-baiknya dan dirawat oleh perawat yang berkompeten di bidangnya (ahli dan berpengalaman).
Ruang pemulihan hendaknya diatur agar selalu bersih, tenang, dan alat-alat yang tidak berguna disingkirkan. Sebaliknya, semua alat yang diperlukan harus berada di RR. Sirkulasi udara harus lancar dan suhu di dalam kamar harus sejuk. Bila perlu dipasang AC.
Bila pengaruh obat bius sudah tidak berbahaya lagi, tekanan darah stabil-bagus, perafasan lancar-adekuat dan kesadaran sudah mencukupi (lihat Aldered Score), barulah klien dipindahkan ke kamarnya semula (bangsal perawatan).
- Syarat Ruangan
- Tenang, bersih dan bebas dari peralatan yang tidak dibutuhkan
- Warna ruangan lembut dan menyenangkan
- Pencahayaan tidak langsung
- Plafon kedap suara
- Peralatan yang mengontrol atau menghilangkan suara (ex : karet pelindung tempat tidur supaya tidak mengeluarkan suara saat terbentur)
- Tersedia peralatan standart : alat bantu pernafasan; oksigen, laringoskop, set trakeostomi, peralatan bronkial, kateter, ventilator mekanis dan perlatan suction)
- Peralatan kebutuhan sirkulasi : aparatus tekanan darah, peralatan parenteral, plasma ekspander, set intravena, defibrilator, kateter vena, dan tourniquet
- Balutan bedah, narkotik dan medikasi kedaruratan
- Set kateterisasi dan peralatan drainage
- Tempat tidur pasien yang dapat diakses dengan mudah, aman dan dapat digerakkan dengan mudah
- Suhu ruangan berkisar antara 20 –22.2oC dengan ventilasi ruangan yang baik.
- Tugas Perawat di Recovery Room
- Selama 2 jam pertama, periksalah nadi dan pernafasan setiap 15 menit, lalu setiap 30 menit selama 2 jam berikutnya. Setelah itu bila keadaan tetap baik, pemeriksaan dapat diperlambat. Bila tidak ada petunjuk khusus, lakukan setiap 30 menit. Laporkan pula bila ada tanda-tanda syok, perdarahan dan menggigil.
- Infus, kateter dan drain yang terpasang perlu juga diperhatikan
- Jagalah agar saluran pernafasan tetap lancar. Klien yang muntah dimiringkan kepalanya, kemudian bersihkan hidung dan mulutnya dari sisa muntahan. Bila perlu, suction sisa muntahan dari tenggorokan.
- Klien yang belum sadar jangan diberi bantal agar tidakmenyumbat saluran pernafasan. Bila perlu, pasang bantal di bawah punggung, sehingga kepala berada dalam sikap mendongak. Pada klien dengan laparatomi, tekuk sedikit lututnya agar perut menjadi lemas dan tidak merenggangkan jahitan luka.
- Usahakan agar klien bersikap tenang dan rileks.
- Tidak perlu segan untuk melaporkan semua gejala yang perawat anggap perlu untuk mendapatkan perhatian, termasuk gejala yang “tampaknya” tidak berbahaya.
- C. Kriteria Pasien Yang di Perbolehkan Keluar Dari Recovery Room
- Gejala vital stabil dan fungsi respiratori serta sirkulatori sempurna.
- Pasien sudah bangun atau mudah bangun dan bisa memanggil bila ada keperluan.
- Komplikasi pasca bedah telah dievaluasi dengan cermat dan terkendali.
- Setelah anastesi regional fungsi motor dan sebagian sensori telah pulih kembali pada daerah yang terkena anastesi.
- Klien telah mempunyai control suhu tubuh yang baik, fungsi ventilasi yang baik, nyeri dan mual minimal, pengeluaran urin yang adekuat, dan cairan elektrolitnya seimbang.
- D. Tugas Perawat Ruangan Setelah Menerima Pasien dari Recovery Room
Rasa cemas akan meningkat jika dokter bedah menginformasikan keluarga tentang lamanya pembedahan dan jika klien masih berada dalam ruang operasi melebihi waktu yang diperkirakan. Perawat dapt membantu keluarga menghilangkan rasa khawatir dengan menjelaskan alas an penundaan yang normal, seperti perlunya persiapan ruang operasi atau adanya keterlambatan papembedahan sebelumnya. Apabila lama klien berada di RR bertambah, perawat dapat menjelaskan pada keluarga bahwa klien lebih lama disanan untuk diobservasi. Apabila klien mengalami komplikasi, dokter bedah bertanggung jawab untuk menjelaskan tentang apa yang terjadi selama pembedahan berlangsung.
- Persiapan di unit klinis
Banyak ahli bedah suka menceritakan hasil bedah dengan keluarganya segera setelah boperasi usai dan mengunjungi pasien dan menceritakan apa yang ditemukan secara singkat dan memberi jaminan. Keluarga pasien kebanyakan suka cemas tentang kondisi pasien dan suka tidak bisa menanggapi apa yang ahli bedah terangkan kepada mereka. Pasien sering menderita amnesia pada jam-jam pertama mulai sadar dan tidak dapat mengingat apa yang sudah dikatakan kepadanya.
Perawat harus mengetahui apa yang sudah dikatakan kepada pasien dan keluarganya sehingga bisa memberi jawaban jika mereka ditanya. Keluarga juga harus mengetahui apa yang diharapkan bila pasien kembali ke unit.
- Persiapan bangsal untuk pasien yang kembali dari kamar bedah
- Menyiapkan tempat tidur terbuka untuk pasien bedah agar perpindahan berjalan lancer.
- Disiapkan cukup selimut (pasien masih suka kedinginan).
- Perintang-perintang lalu lintas dipindahkan.
- Persiapan perlengkapan :
2) Sphygmomanometer
3) Alat khusus yang dipesan oleh perawat ruang pemulihan
- E. Komplikasi Pasca Operatif
- Syok
Tekanan darah rendah dan urine pekat.Meskipun terdapat banyak jenis syok, definisi dasar tentang syok secara umum berpusat pada suatu ketidakadekuatan aliran darah ke organ-organ vital dan ketidakmampuan jaringan dari organ-organ ini untuk menggunakan oksigen dan nutrien lain.
Manifestasi Klinis :
- Pucat.
- Kulit dingin dan terasa basah.
- Pernafasan cepat.
- Sianosis pada bibir, gusi dan lidah.
- Nadi cepat, lemah dan bergetar.
- Penurunan tekanan nadi.
- Terapi penggantian cairan.
- Menjaga trauma bedah pda tingkat minimum.
- Pengatasan nyeri dengan membuat pasien senyaman mungkin dan dengan menggunakan narkotik secara bijaksana.
- Pemakaian linen yang ringan dan tidak panas (mencegah vasodilatasi).
- Ruangan tenang untuk mencegah stres.
- Posisi supinasi dianjurkan untuk memfasilitasi sirkulasi.
- Pemantauan tanda vital.
- Pasien dijaga tetap hangat tapi tidak sampai kepanasan.
- Dibaringkan datar di tempat tidur dengan tungkai dinaikkan.
- Pemantauan status pernafasan dan CV.
- Penentuan gas darah dan terapi oksigen melalui intubasi atau nasal kanul jika diindikasikan.
- Penggantian cairan dan darah kristaloid (ex : RL) atau koloid (ex : komponen darah, albumin, plasma atau pengganti plasma).
- Penggunaan beberapa jalur intravena.
Intervensi Keperawatan
Perawat membantu dalam melaksanakan pengobatan yang diresepkan. Tekanan darah pasien harus dipantau dengan konstan. Pasien dijaga agar tetap berbaring datar ketika obat ini diberikan. Jika tekanan darah sistolik terus menurun, medikasi dihentikan dan cairan ditingkatkan.
Tindakan keperawatan berikut diindikasikan:
- Dukungan psikologis diberikan, dan penggunaan energi pasien dikurangi. Reaksi pasien terhadap pengobatan dikaji, dan istirahat ditingkatkan. Dukungan dan penenangan diberikan untuk menghilangkan kegelisahan, sedatif diberikan dengan waspada sehingga sirkulasi tidak tertekan lebih jauh.
- Pasien dijaga agar tetap hangat, karena hipotermia mengurangi oksigenasi jaringan. Hipotermia juga mempengaruhi sirkulasi perifer.
- Pasien diubah posisinya setiap 2 jam, dan dorong pasien agar melakukan napas dalam untuk meningkatkan fungsi optimal kardiopulmonari.
- Komplikasi dicegah dengan mengamati semua parameter dan memantau pasien dengan ketat dalam 24 jam periode setelah awitan syok. Komplikasi yang umum adalah edema perifer dan pulmonal akibat kelebihan cairan, yang diakibatkan oleh pemberian cairan yang lebih cepat dibanding dengan yang dapat diakomodasi oleh tubuh.
- Semua pengamatan dan intervensi didokumentasikan.
- Hemorrhagi (Perdarahan)
- Hemorrhagi Primer : terjadi pada waktu pembedahan.
- Hemorrhagi Intermediari : beberapa jam setelah pembedahan ketika kenaikan tekanan darah ke tingkat normalnya melepaskan bekuan yang tersangkut dengan tidak aman dari pembuluh darah yang tidak terikat.
- Hemorrhagi Sekunder : beberapa waktu setelah pembedahan bila ligatur slip karena pembuluh darah tidak terikat dengan baik atau menjadi terinfeksi atau mengalami erosi oleh selang drainage.
Gelisah, gundah, terus bergerak, merasa haus, kulit dingin-basah-pucat, nadi meningkat, suhu turun, pernafasan cepat dan dalam, bibir dan konjungtiva pucat dan pasien melemah.
Penatalaksanaan :
- Pasien dibaringkan seperti pada posisi pasien syok
- Sedatif atau analgetik diberikan sesuai indikasi
- Inspeksi luka bedah
- Balut kuat jika terjadi perdarahan pada luka operasi
- Transfusi darah atau produk darah lainnya
- Observasi VS.
- Trombosis Vena Profunda (TVP)
Manifestasi klinis :
- Nyeri atau kram pada betis
- Demam, menggigil dan perspirasi
- Edema
- Vena menonjol dan teraba lebih mudah
- Latihan tungkai
- Pemberian Heparin atau Warfarin dosis rendah
- Menghindari penggunaan selimut yang digulung, bantal yang digulung atau bentuk lain untuk meninggikan yang dapat menyumbat pembuluh di bawah lutut
- Menghindari menjuntai kaki di sisi tempat tidur dalam waktu yang lama
- Ligasi vena femoralis
- Terapi antikoagulan
- Pemeriksaan masa pembekuan
- Stoking elatik tinggi
- Ambulasi dini
- Embolisme Pulmonal
- Komplikasi Pernapasan
Pencegahan:
- Menurunkan resistensi pasien
- Penghisapan sekresi menggunakan selang edndotrake atau bronkoskopi.
- Hipoksemia
- Atelektasis
- Bronkhitis
- Bronkopneumonia dan pneumonia
- Pneumonia lobaris
- Kongesti pulmonari hipostatik
- Pleurisi
- Superinfeksi
- Retensi Urine
- Komplikasi Gastrointestinal
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
- A. Pengkajian
- Respirasi : Kecepatan jalan napas, kedalaman, frekuensi, dan karakter pernapasan, sifat dan bunyi napas.
- Sirkulasi : Tanda-tanda vital termasuk tekanan darah dan kondisi kulit.
- Tingkat kesadaran : Respon secara verbal terhadap pertanyaan atau reorientasi terhadap tempat terbangun ketika dipanggil namanya.
- Drainase : Adanya drainase, keharusan untuk menghubungkan selang ke sistem drainase yang spesifik, adanya dan kondisi balutan.
- Kenyamanan : Tipe nyeri dan lokasi, mual atau muntah, perubahan posisi yang dibutuhkan.
- Psikologi : Sifat dari pertanyaan pasien, kebutuhan akan istirahat dan tidur, gangguan oleh kebisingan, pengunjung, ketersediaan bel pemanggil atau lampu pemanggil.
- Keselamatan : Kebutuhan akan pagar tempat tidur, drainase selang tidak tersumbat, cairan IV terinfus dengan tepat dan letak IV terbebat dengan baik.
- Peralatan : Diperiksa untuk fungsi yang baik.
- B. Diagnosa Keperawatan
- Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan efek depresan dari medikasi dan agens anestetik.
- Nyeri dan ketidaknyamanan pasca operatif.
- Risiko terhadap perubahan suhu tubuh : hipotermia.
- Risiko terhadap cedera yang berhubungan dengan status pasca anetesia.
- Perubahan nutrisi: Kurang dari kebutuhan tubuh
- Perubahan eliminasi urinarius yang berhubungan dengan penurunan aktivitas, efek medikasi, dan penurunan masukan cairan.
- Konstipasi yang berhubungan dengan motilitas lambung dan usus selama periode intraoperatif.
- Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan penurunan intoleransi aktivitas, dan pembatasan aktivitas yang diresepkan.
- Ansietas tentang diagnosis pasca operatif, kemungkinan perubahan dalam gaya hidup, dan perubahan dalam konsep diri.
- C. Perencanaan dan Implementasi
- D. Intervensi Keperawatan dan Evaluasi
- Diagnosa ke-1
- Latih pasien untuk napas dalam
- Kaji bunyi napas pasien
- Gunakan spirometri insentif
- Kaji suhu tubuh pasien
- Observasi nilai gas darah
- Anjurka pasiem untuk pemeriksaan rotgen dada
- Anjurkan pasien untuk mengobah posisi setiap 2 jam sekali
- Ajarkan pasien untuk batuk efektif
- Latih pasien untuk melakukan ambulasi dini
- Hindarkan pasien dari penderita infeksi pernapasan atas
- Melakukan latihan napas dalam
- Menunjukkan bunyi napas yang bersih
- Menggunakan spirometer insensitive sesuai dengan yang diresepkan
- Menunjukkan suhu tubuh yang normal
- Memepertahankan nilai gas darah yang normal
- Menunjukkan hasil rontgen dada yang normal
- Berbalik dari satu posisi ke posisi laninnya sesuai yang diinstruksikan
- Batuk secara effektif untuk memebersihkan sekresi
- Melakukan latihan dan ambulasi seperti yang diresepkan
- Menghindari individu yang menderita infeksi pernapasan atas
- Diagnosa ke-2
- Meredakan nyeri
- Anjurkan pasien untuk melakuakn strategi distraksi
- Kaji mual dan muntah
- Hilangkan distress abdomen dan nyeri akibat gas
- Hilangkan cegukan
- Menunjukkan bahwa nyeri berkurang intensitasnya
- Membebat tempat insisi ketika batuk untuk mengurangi nyeri
- Ikut serta dalam strategi distraksi
- Melaporkan tidak adanya mual dan tidak muntah
- Bebas dari distress abdomen dan nyeri akibat gas
- Menunjukkan tidak adanya cegukan
- Diagnosa ke-3
- Observasi tanda-tanda hipotermia dan laporkan pada dokter
- Pertahankan ruangan pada suhu yang nyaman dan sediakan selimut untuk mencegah menggigil
- Pantau kondisi pasien terhadap disritmia jantung
- Menunjukkan suhu tubuh inti normal
- Bebas dari menggigil
- Tidak menunjukkan tanda-tanda kedinginan
- Tidak mengalami disritmia jantung
- Diagnosa ke-4
- Lindungi pasien dari penyebab yang dapat mencedrai diri
- Anjurkan menggunkaan restrain bila dibutuhkan
- Deteksi masalah-masalah sebelum mereka mengakibatkan cedera
- Terhindar dari cedera
- Menerima untuk menaikkan pagar tempat tidur ketika dibutuhkan
- Bebas dari cedera yang berhubungan dengan kesalahan posisi, terjatuh dan bahaya lainnya.
- Mencapai kembali sensorium yang normal
- Diagnosa ke-5
- Auskultasi abdomen untuk mendeteksi adanya paralisis ileus, dan bising usus normal
- Kembalikan pasein pada masukan diet normal bila pasien telah pulih benar dari efek anestesi dan tidak merasa mual
- Observasi berat badan pasien sebelum dan sesudah operasi
- Menunjukkan motilitas gastrointestinal yang meningkat dan tidak adanya paralisis ileus, bising usus normal.
- Kembali pada pola diet normal bila memungkinkan
- Mengalami penambahan berat badan ke berat badan sebelum operasi.
- Diagnosa ke-6
- Kaji pasien apakah berkemih atau dengan kateter
- Haluaran urin kurang dari 30 ml selama 2 jam berurutan harus dilaporkan
- Masukan dan haluaran dicatat bagi semua pasien setelah prosedur operatif urologic atau prosedur yang kompleks dan bagi semua pasien lansia
a. Berkemih adekuat tanpa menggunakan kateter
b. Menunjukkan tidak adanya berkemih dalam jumlah yang sedikit (menunjukkan retensi)
c. Menerima untuk bertanggung jawab terhadap masukan cairan yang adekuat
- Diagnosa ke-7
- Auskultasi abdomen untuk mendeteksi adanya bising usus, jika bising usus terdengar, diet pasien secara bertahap sitingkatkan.
- Auskultasi abdomen atau usus untuk mendeteksi adanya distress abdomen, nyeri akibat gas, dan konstipasi
- Observasi pola eliminasi usus pasien
a. Menunjukkan bising usus yang normal dan efektif saat auskultasi
b. Bebas dari distress abdomen, nyeri akibat gas, dan konstipasi
c. Menunjukkan pola eliminasi usus yang lazim
- Diagnosa ke-8
- Menyesuaikan antara aktivitas dan istirahat
- Secara progresif meningkatkan ambulasi
- Melanjutkan aktivitas normal dalam kerangka waktu yang ditetapkan
- Melakukan aktivitas yang berhubungan dengan perawatan diri
- Ikut serta dalam program rehabilitasi (bila memungkinkan)
BAB IV
PENUTUP
- A. Kesimpulan
Komplikasi dari post operatif, yaitu syok, hemorrhagi, thrombosis vena profunda (VTP), embolisme pulmonal, komplikasi pernapasan, retensi urin, komplikasi gastrointestinal.
Jadi, Upaya yang dapat dilakukan diarahkan untuk mengantisipasi dan mencegah masalah yang kemungkinan mucul pada tahap ini. Pengkajian dan penanganan yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan untuk mencegah komplikasi yang memperlama perawatan di rumah sakit atau membayakan diri pasien. Memperhatikan hal ini, asuhan keperawatan post operatif sama pentingnya dengan prosedur pembedahan itu sendiri.
Fase pasca operatif dimulai dengan masuknya pasien ke ruang pemulihan (recovery room) dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau di rumah. Lingkup aktivitas keperawaan mecakup renatang aktivitas yang luas selama periode ini. Pada fase ini fokus pengkajian meliputi efek agen anstesi dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Aktivitas keprawatan kemudian berfokus pada peningkatan penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan, perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan dan rehabilitasi serta pemulangan.
- B. Saran
Untuk pasien semestinya harus lebih tanggap terhadap pengkajian-pengkajian yang dilakukan perawat dalam memeberikan asuhan keperawatan khususnya dalam asuhan keperawatan pada klien dengan post operatif, karena peningkatan penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan, perawatan tindak lanjut dan rujukan untuk penyembuhan dan rehabilitasi serta pemulangan sangat penting bagi pasien maupun perawat.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah : Edisi 8 Vol 1. EGC. Jakarta.
Barbara C. Long. (1996). Perawatan Medikal Bedah 2. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan. Bandung.
Potter & Perry. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Edisi 4 Vol 2. EGC. Jakarta.
fandik prasetiyawan/ asuhan keperawatan/ mahasiswa/ blogger bojonegoro/ stikes muhammadiyah: MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PRA dan POST OPERASI B...
fandik prasetiyawan/ asuhan keperawatan/ mahasiswa/ blogger bojonegoro/ stikes muhammadiyah: MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PRA dan POST OPERASI B...: MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PRA dan POST OPERASI BEDAH JANTUNG Dalam Memenuhi Tugas Sistem KardiovaskulerII Dosen Pemb...
Langganan:
Postingan (Atom)
